Strategi Konservasi Nasional Perlu Direvisi

Strategi Konservasi Nasional Perlu Direvisi


Pada tahun 1982, Indonesia telah memiliki Strategi Konservasi Nasional yang merujuk kepada Strategi Konservasi Dunia versi International Union for Conservation of Nature and Natural Resources ( IUCN ) tahun 1980. Maka selayaknya kita telah melakukan pembaruan kebijakan pelestarian alam yang hanya berdasar kepada kaidah lama yang mengutamakan pelestarian alam semata-mata demi kelestarian alam, yang “menomorduakan” asas kemanfaatan (pelestarian), demi kepentingan umat manusia.
Seharusnya kita bisa bercermin, misalnya kepada Bangla Desh, yang ketika itu telah mengalami degradasi tanah dan lingkungan hingga mengakibatkan malapetaka yang berdatangan silih berganti, berupa banjir di musim hujan sebagai akibat penebangan hutan yang semena-mena di daerah hulu, disusul oleh kekeringan di musim kemarau, yang mengakibatkan terjadinya gagal panen, yang kemudian disusul oleh kelaparan dan wabah penyakit. Apa lacur, yang terjadi di Bangla Desh seperempat abad lalu pun terjadi juga di Indonesia selama seperempat abad terakhir, walaupun kita sempat swasembada pangan pada era Orde Baru.
Dan seperti telah terjadi Bangla Desh di banyak tempat di Indonesia, bahkan sejak saat mulai dicanangkannya Strategi Konservasi Nasional kita harus melakukan rehabilitasi terhadap rusaknya lingkungan yang menelan biaya yang sangat mahal dengan hasil yang tidak sama produktifnya seperti sebelum terjadi kerusakan lingkungan. Tanah longsor dan banjir di musim hujan terjadi mana-mana, lalu disusul oleh kekeringan pada musim kering berikutnya. Murka alam kini makin mengerikan berujud tsunami, gempa, puting beliung, kebakaran hutan, ledakan hama dan penyakit.
Penggundulan hutan yang terjadi selama puluhan tahun merupakan pengelupasan permukaan tanah yang makin dipercepat, yang berarti makin bekurangnya jumlah permukaan tanah. Dibarengi pula oleh pendangkalan pada aliran sungai dan saluran- irigasi.
Kestabilan iklim pun terganggu akibat penggundulan hutan. Suhu di permukaan tanah melonjak. Tingginya suhu udara mengakibatkan turunnya hujan jadi tidak menentu. Bahkan di daerah daerah yang mengalami penggundulan makin jarang turun hujan.

Faedah bagi Kehidupan Bangsa
Pembukaan hutan mengurangi foto synthesis secara keseluruhan oleh daun daun sehingga zat asam dihasilkan lebih sedikit dan karbon dioksida kurang tersingkirkan dari atmosfer. Pembakaran hutan menambah efek meningkatnya tingkat karbon dioksida di atmosfer, hingga mengurangi kecerahan atmosfer secara keseluruhan yang pada gilirannya menyebabkan efek rumah kaca. Syukurlah bahwa kita menyadarinya dan meratifikasi Protokol Kyoto (UU No. 17 Tahun 2004) tentang pengurangan gas buang karbon dioksida.
Dalam jangka panjang konservasi sumber-sumber daya alam yang terperbarui (renewable living resources) melalui kelangsungan hasil hutan berupa kayu, buah buahan, madu, obat obatan, ikan dan daging memainkan peran penting dalam kehidupan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Faedah lainnya adalah untuk keperluan penelitian dan pendidikan guna memampukan kita lebih memahami fungsi ekosistem tropis.
Hanya di ekosistem alam yang rumit kita dapat menjaga produktivitas tinggi dengan melindungi tanah yang subur dengan tingkat gangguan hama yang rendah tanpa memerlukan pupuk dan pestisida.
Faedah lain sebagai proteksi terhadap sumber-sumber genetik, karena khususnya di Indonesia pertanian tropik dan peternakan kita masih sangat tidak efisien dibanding dengan ekosistem alamnya. Keadaan di Indonesia hingga sekarang membuat kita masih terlalu tergantung kepada beberapa species, sehingga dengan demikian membuat kita rentan terhadap kemungkinan gagal panen yang disebabkan oleh buruknya iklim, hama dan penyakit tanaman.
Pengembangan pertanian di masa depan sangat bergantung kepada kita memperluas cakupan species yang menjadi tempat “bergantung” manusia, seperti penduduk di kawasan hutan kita sudah memanfaatkan ratusan species liar yang memiliki potensi yang hingga kini belum tuntas kita pelajari.
Selama ini kita lebih banyak mengambil species baru melalui perekayasaan genetis (genetic engineering), pada hal “bahan mentah” untuk rekayasa hayati selalu bergantung kepada keragaman genetis alam, baik dari tanaman maupun satwa liar. Faedah untuk pariwisata dan rekreasi, mengingat kegemaran orang kota yang makin suka “kembali kepada alam”. Rimba raya kita dapat digunakan untuk rekreasi dan pariwisata. Potensial untuk penambahan pendapatan nasional dan daerah.

Pertahanan
Argumen sosial dan falsafi yang tidak boleh terlalu kita abaikan terutama adalah faedah pelestarian alam untuk peningkatan kualitas hidup, maupun sebagai tanggung jawab kita sebagai manusia, serta kebanggaan nasional dan warisan untuk generasi mendatang. Jelas Tuhan memberi amanat tertentu, kenapa Tuhan tidak cuma menciptakan manusia, padi dan nyiur.
Kenapa Tuhan mencipta dan menganugrahkan begitu banyak species tumbuhan dan binatang. Bukankah semua agama mengamanatkan falsafah serupa bahwa manusia harus menghormati dan bertanggung jawab terhadap alam?
Hingga sekarang baik Pemerintah bahkan DPR kurang memahami bahwa anggaran belanja yang harus dikeluarkan untuk pelestarian alam masih selalu dianggap terlalu besar karena nilainya yang “tidak produktif atau tidak ekonomis”. Pada argumen pelestarian alam tidak boleh hanya murni berdasarkan kepada pertimbangan ekonomis dan produktivitas.
Ambil contoh anggaran pertahanan untuk rata-rata negara di dunia adalah “tidak produktif”. Namun, tak dapat dibayangkan bagaimana jika Indonesia tidak memiliki benteng pertahanan terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam. Bayangkan pula, jika tidak ada kontrol terhadap sumber sumber daya alam, seperti telah dan sedang terjadi hingga sekarang yang sesungguhnya telah mengakibatkan timbulnya biaya yang sangat besar dengan makin hancurnya perbentengan lingkungan hidup Indonesia akibat tidak terkontrolnya penebangan hutan, makin menipisnya hutan bakau di pesisir dan terumbu terumbu karang di perairan kita.
Korban nyawa ribuan manusia akibat berbagai petaka alam, yang sedikit banyaknya oleh ulah manusia sendiri, tidak mungkin dirupiahkan nilainya.
Revisi kebijakan pelestarian alam—jika kita mampu dan perlu merevisinya—harus dipulangkan kepada nilai masa depan bangsa, yakni generasi-generasi anak cucu kita yang mungkin lebih terancam kesejahteraan mereka, ketimbang kita derita hingga sekarang.
Malahan, kehancuran jutaan hektar hutan belantara, bakau dan terumbu karang yang terus berlangsung selama puluhan tahun, telah semakin mendekatkan jarak dan frekuensi bahaya langsung pada kita mulai sekarang dan seterusnya.
Tanpa kebijakan pelestarian dan tanpa penanggulangan terhadap penebangan hutan (yang “sah” maupun yang illegal), daya tahan dan mutu manusia Indonesia akan menjadi terbelakang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: