Archive for Pelestarian

Nasib Hutan Yang Makin Memburuk

Nasib Hutan yang Makin Merana

SEJAK era reformasi tahun 1998, kondisi hutan di Indonesia, termasuk Lampung, makin merana. Kerusakan hutan akibat pembukaan hutan dengan cara dibakar dan penebangan liar (illegal logging) kian tak terkendali. Jangan heran jika Indonesia kemudian dituding sebagai salah satu negara penyumbang pemanasan global ketiga di dunia.

Deforestasi alias penebangan hutan merupakan persoalan terbesar yang harus diatasi Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 1998 menyebutkan dari total 800 juta ton emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia selama tahun 1992–1997 sekitar 75% di antaranya didominasi alih fungsi lahan. Sisanya, dengan angka yang kurang signifikan, dihasilkan penggunaan energi dan aktivitas industri.

Laporan Bank Dunia tahun 2007 menyebutkan Indonesia sebagai negara penyumbang karbon dioksida (CO2) ketiga di dunia akibat pembukaan hutan dengan cara dibakar dan pembalakan liar (illegal logging).

Harus diakui kerusakan hutan Indonesia ini menjadi pemicu tingginya pemanasan global.

Sementara itu, di dunia sedang giat mengonservasi kawasan hutan, di Indonesia kerusakan hutan justru makin parah, termasuk hutan taman nasional maupun hutan lindung.

Di Lampung, ada dua taman nasional, yakni Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Lampung Barat-Tanggamus. Sementara itu, hutan-hutan lindung tersebar di semua kabupaten se-Lampung, di antaranya hutan lindung Register 3 Gunung Rajabasa (Lampung Selatan), Register 32 Bukit Rindingan (Tanggamus), dan Register 38 Gunung Balak (Lampung Timur). Taman nasional yang rusak parah, yaitu TNWK.

Kini, dari 125.621 hektare kawasan konservasi tersebut, 75 persennya sudah rusak. Hanya 31.405 hektare atau 25 persen kawasan hutan yang masih tersisa.

Di dataran rendah, TNWK dipenuhi semak belukar dan ilalang. Kerusakan kawasan hutan di kawasan ini terjadi karena pembalakan liar dan perambahan yang berlangsung lama. Sementara itu, untuk kawasan TNBBS, diperkirakan 17 persen yang rusak. Itu juga disebabkan pembalakan liar dan perambahan.

TNBBS masih sedikit beruntung karena mendapat perhatian ekstra dari dalam maupun luar negeri. Ini tidak terlepas dari status TNBBS sebagai world heritage site (kawasan warisan dunia) yang ditetapkan UNESCO pada bulan Juli 2004. Ini yang membuat kawasan konservasi seluas 356.800 hektare ini relatif terjaga dibanding dengan TNWK.

“Luas yang dirambah sekitar 24.267 hektare,” ujar Direktur Eksekutif WWF Joko.

Sementara itu, kerusakan hutan Lampung versi Dinas Kehutanan, hingga tahun 2006 kerusakan hutan di Lampung mencapai 41 persen, termasuk kebun kopi milik warga yang merambah ke dalam kawasan. Ekosistem flora di hutan primer tinggal 65%–70%, hutan sekunder tinggal 6%, dan kebun kopi milik penduduk sudah menempati 16% dari luas areal hutan.

Walaupun pemetaan dengan citra satelit di kawasan taman nasional maupun register masih sebagian besar menghijau, di lapangan sangat berbeda. Ini karena kerusakan hutan yang dipantau tersamarkan kebun kopi.

Begitu juga dengan keberadaan satwa liar yang menjadi salah satu penghuni ekosistem hutan. Tercatat hingga tahun 1999, satwa liar di hutan Lampung tinggal 10%, baik jumlah maupun jenisnya. Satwa di hutan masih ada, tapi cenderung punah. Yang terbesar diakibatkan perburuan liar. Bahkan kerusakan hutan disebabkan juga orang-orang yang punya kemampuan.

Meningkat

Kerusakan hutan Lampung diperparah dengan meningkatkan pembalakan liar. Sepanjang tahun 2005, Polda Lampung telah menangani 42 kasus illegal logging dengan 87 tersangka.

Kasus ini meningkat dibanding dengan tahun sebelumnya yang hanya 16 kasus dengan 28 tersangka. Dari ke-42 kasus tersebut, 20 kasus dinyatakan P21, sedangkan lainnya dalam proses penyidikan.

Dari penanganan kasus tersebut Polda Lampung menyita 275 meter kubik kayu racuk campuran, 1.922 batang kayu racuk campuran, dan 813 batang kayu meranti. Juga peralatan yang dijadikan barang bukti berupa traktor, kapal air, rakit, golok, kapak, gergaji, dan 13 chainsaw.

Hal ini patut disayangkan karena sejak tahun lalu, Lampung dan beberapa daerah sudah melaksanakan moraturium antardaerah untuk menekan penebangan hutan.

Moraturium tersebut merupakan implementasi Inpres Nomor 4 Tahun 2005 dan adanya MoU antarkepala daerah yang dituangkan dalam APBD. Dengan dilaksanakan MoU tersebut, Lampung menjadi satu-satunya daerah di dunia yang memiliki tim penghentian penebangan hutan (moratorium) yang merupakan gabungan beberapa unsur penting.

Lalu, apa langkah pemerintah untuk mempertahankan hutan sebagai penekan laju kebocoran ozon di bumi ini? Kuncinya ialah hancurkan korupsi. Sebab, faktor penghambat seluruh program-program ideal yang direncanakan pemerintah untuk “menghijaukan” kembali hutan yang rusak itu ialah “permainan” oknum, kata anggota Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung Firman Seponada.

Firman menegaskan hanya hutan yang mampu menekan kebocoran ozon. Sebab, hanya tanaman yang mampu menyerap zat karbon yang selama ini diindikasi kuat penyebab menipiskan lapisan ozon itu. “Kalau banyaknya tanaman atau hutan tidak dapat sebanding dengan polusi zat logam berat di udara, udara yang mengandung logam berat akan leluasa membuat gesekan-gesekan di ozon,” katanya.

Ozon merupakan satu-satunya pelindung alami bagi manusia dari radiasi langsung sinar matahari. Dampak luasnya akan terjadi pemanasan global dengan gejala terjadi peninggian permukaan air laut. Karena gunung es di kutub utara dan selatan mulai mencair. “Jadi apa lagi yang dicari orang untuk mengorupsi program ideal pelestarian hutan,” katanya.

Memang ada dua program utama mengenai kehutanan, yaitu pengembalian fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan manusia. Untuk perlu adanya penghijauan dengan mempercepat kembali “hijau” hutan bisa dengan tanaman budi daya atau biasa disebut multi-purpose tree species (MPTS). Sehingga masyarakat masih bisa memanfaatkan dari hasil tanaman itu. Dan pelestarian hutan dengan mengembalikan tanaman asli ke setiap habitat hutannya. Namun untuk membuat “hijau” saja pemerintah sudah sangat kesulitan karena “penyelewengan” program oleh oknum. “Untuk menghijaukan saja sulit apalagi melestarikan,”

Comments (3) »

Usaha Cara Metode Pelestaria Hutan

Usaha, Cara & Metode Pelestarian Hutan Agar Tidak Gundul dan Rusak Akibat Eksploitasi Berlebih Demi Melestarikan Lingkungan

Berikut di bawah ini adalah teknik dan cara yang dapat digunakan untuk menjaga hutan kita tetap terjaga dari tangan-tangan perusak jahat. Perambahan hutan tanpa perencanaan dan etika untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya sangatlah berbahaya karena dapat merusak alam dan habitat serta komunitas hewan yang ada di dalamnya.

1. Mencegah cara ladang berpindah / Perladangan Berpindah-pindah

Terkadang para petani tidak mau pusing mengenai kesuburan tanah. Mereka akan mencari lahan pertanian baru ketika tanah yang ditanami sudah tidak subur lagi tanpa adanya tanggung jawab membiarkan ladang terbengkalai dan tandus. Sebaiknya lahan pertanian dibuat menetap dengan menggunakan pupuk untuk menyuburkan tanah yang sudah tidak produktif lagi.

2. Waspada-Waspadalah & Hati-Hati Terhadap Api

Hindari membakar sampah, membuang puntung rokok, membuat api unggun, membakar semak, membuang obor, dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Jika menyalakan api di dekat atau di dalam hutan harus diawasi dan dipantau agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk. Kebakaran hutan dapat mengganggu kesehatan manusia dan hewan di sekitar lokasi kebakaran dan juga tempat yang jauh sekalipun jika asap terbawa angin kencang.

3. Reboisasi Lahan Gundul dan Metode Tebang Pilih

Kombinasi kedua teknik adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pelilik sertifikan HPH atau Hak Pengelolaan Hutan. Para perusahaan penebang pohon harus memilih-milih pohon mana yang sudah cukup umur dan ukuran untuk ditebang. Setelah meneang satu pohon sebaiknya diikuti dengan penanaman kembali beberapa bibit pohon untuk menggantikan pohon yang ditebang tersebut. Lahan yang telah gundul dan rusak karena berbagai hal juga diusahakan dilaksanakan reboisasi untuk mengembalikan pepohonan dan tanaman yang telah hilang.

4. Menempatkan Penjaga Hutan / Polisi Kehutanan / Jagawana

Dengan menempatkan satuan pengaman hutan yang jujur dan menggunakan teknologi dan persenjataan lengkap diharapkan mempu menekan maraknya aksi pengrusakan hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bagi para pelaku kejahatan hutan diberikan sangsi yang tegas dan dihukum seberat-beratnya. Hutan adalah aset / harta suatu bangsa yang sangat berharga yang harus dipertahankan keberadaannya demi anak cucu di masa yang akan datang.

Comments (2) »

Departemen Kehutanan

Departemen Kehutanan

Jakarta (ANTARA News) – Departemen Kehutanan telah membentuk tim pengkaji rencana strategis Pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK), yang bertugas mempercepat program itu melalui pendidikan dan latihan yang sejalan dengan tujuan pengelolaan hutan lestari.

Dalam tugasnya, tim itu telah membagi system kelembagaan KHDTK menjadi empat kelompok; pertama, kelompok yang mengelola 1000 ha dengan akses mudah, kesuburan lahan tinggi, keragaman ekosistem dan jenis, potensial, untuk dikelola dari segi lingkungan dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

Kelompok ini mampu dikelola seluruhnya oleh Badan Litbang Kehutanan secara intensif, dan sebagai area kunjungan model pengelolaan.

Kelompok kedua adalah KHDTK yang mempunyai luas kurang dari 1000 ha dengan akses mudah, kesuburan lahan tinggi, keragaman ekosistem dan keragaman jenis tinggi, tetapi kurang potensial untuk dikelola dari segi jasa lingkungan. Kelompok ini mampu dikelola seluruhnya oleh Badan Litbang Kehutanan secara intensif.

Kelompok ketiga adalah KHDTK yang mempunyai luas antara 1000-3000 ha dengan akses relatif mudah, kesuburan lahan tinggi, keragaman ekosistem dan keragaman jenis tinggi, dan masuk kategori sangat potensial untuk dikelola. Kelompok ini dikelola secara kolaboratif, dan sebagai area kunjungan model pengelolaan.

Sedangkan kelompok keempat adalah KHDTK yang mempunyai luas lebih dari 3000 ha dengan aksesibilitas rendah, biodiversitas tinggi, sangat potensial untuk dikelola dari segi jasa lingkungan, serta dukungan sarana dan prasarana kurang memadai dan potensi konflik atas lahan tinggi. Kelompok ini akan dikelola secara kolaboratif.

Selanjutnya, Badan Litbang Departemen Kehutanan akan menggunakan hasil Tim Kajian tersebut sebagai rujukan untuk membentuk sistem pengelolaan KHDTK. Untuk memastikan bahwa areal penelitian dalam kawasan hutan di seluruh Indonesia tidak diganggu untuk kegiatan lain, areal penelitian tersebut dapat ditunjuk sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus untuk hutan penelitian.

Sampai dengan tahun 2007 Badan Litbang Kehutanan telah mengelola 32 KHDTK yang tersebar di seluruh Indonesia dengan luas areal yang bervariasi.

Comments (2) »

Pelestarian Alam

Kawasan Konservasi

KAWASAN KONSERVASI

Berdasarkan ketentuan Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan kita mengenal mengenai hutan dan klasifikasinya, sebagai berikut :

Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok atas :

  1. Hutan konservasi
  2. hutan lindung, dan
  3. hutan produksi

Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. terdiri dari :

  1. kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan,
    .
  2. kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, dan
  3. taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu.

Sedang dalam ketentuan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alama Hayati dan Ekosistemnya, kita mengenal mengenai kawasan konservasi dan klasifikasinya sebagai berikut :

Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan, yang mencakup :

  1. Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.
  2. Kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.

Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun diperairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, yang mencakup :

  1. Kawasan taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
  2. Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.
  3. Kawasan taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.